Berkurban ; Pengertian dan Hukumnya dalam Islam

Berkurban ; Pengertian dan Hukumnya dalam Islam

Rumahku Surgaku Online

Kata kurban menurut etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – kurban wa kurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat. Maksudnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Yang dimaksud dari kata kurban yang digunakan bahasa sehari-hari, dalam istilah agama disebut “udhhiyah” bentuk jamak dari kata “dhahiyyah” yang berasal dari kata “dhaha” (waktu dhuha), yaitu sembelihan di waktu dhuha pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 bulan Dzulhijjah.

Dari pengertian tersebut, dapat kita pahami bahwa yang dimaksud dari kata kurban atau udhhiyah dalam pengertian syara, ialah menyembelih hewan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah pada Hari Raya Idul Adha dan tiga Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah.

Adapun hukum berkurban sendiri ada beberapa pendapat, diantaranya :

Pendapat pertama: Diwajibkan bagi orang yang mampu

Yang berpendapat seperti ini adalah Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, Rabi’ah, Al Laits bin Sa’ad, Al Awza’i, Ats Tsauri, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Di antara dalil mereka adalah firman Allah SWT “Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2).

Firman Allah SWT ini menggunakan kata perintah dan asal perintah adalah wajib. Jika Nabi Muhammad SAW  diwajibkan hal ini, maka begitu pula dengan umatnya.

Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah).

Pendapat kedua: Sunnah

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyembelih kurban adalah sunnah mu’akkad. Pendapat ini dianut oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambali, pendapat yang paling kuat dari Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakr, ‘Umar bin Khottob, Bilal, Abu Mas’ud Al Badriy,  Suwaid bin Ghafalah, Sa’id bin Al Musayyab, ‘Atho’, ‘Alqomah, Al Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.

Di antara dalil mayoritas ulama adalah sabda Nabi Muhammad SAW : “Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim).

Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shohibul kurban itu sendiri.

Hadits ini mengatakan, “dan salah seorang dari kalian ingin”, hal ini dikaitkan dengan kemauan. Seandainya menyembelih kurban itu wajib, maka cukuplah Nabi Muhammad SAW mengatakan, “maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”, tanpa disertai adanya kemauan.

Begitu pula alasan tidak wajibnya karena Abu Bakar dan ‘Umar tidak menyembelih selama setahun atau dua tahun karena khawatir jika dianggap wajib. Mereka melakukan semacam ini karena mengetahui bahwa Rasulullah Muhammad SAW sendiri tidak mewajibkannya. Ditambah lagi tidak ada satu pun sahabat yang menyelisihi pendapat mereka.

Dari dua pendapat di  atas, kami pribadi lebih memilih pendapat kedua (pendapat mayoritas ulama) yang menyatakan menyembelih kurban sunnah dan tidak wajib. Di antara alasannya adalah karena pendapat ini didukung oleh perbuatan Abu Bakr dan Umar yang pernah tidak berkurban.

Namun meskipun demikian sudah seyogyanya setiap muslim yang mampu untuk berkurban dan tidak sebatas hanya sekali saja dalam hidupnya.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *