Jangan Sesekali Menangisi dan Meratapi Mayit Secara Berlebihan

Jangan Sesekali Menangisi dan Meratapi Mayit Secara Berlebihan

Rumahku-surgaku.org, Tangerang – Kematian adalah sebuah keniscayaan. setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kedatangan maut adalah pasti, baik cepat maupun lambat.

Sebagai orang beriman, kita tentunya harus menyiapkan diri menyongsong ajal sehingga saat kita mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik).

Allah SWT berfirman : “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya,” (QS Ali Imran: 185).

Adapun bagi keluarga yang ditinggal mati, bagaimana sebaiknya bersikap? Mari kita ikuti arahan Rasulullah Muhammad SAW.

 

Jangan tangisi (berlebihan) si mayit

Hadis dari Umar bin Khatab ra, Rasulullah Muhammad SAW bersabda,

المَيِّتُ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الحَيِّ عَلَيْهِ

Mayit disiksa karena tangisan orang yang hidup untuknya. (HR. Bukhari & Muslim).

Kemudian, hadis dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah Muhammad SAW pernah melewati wanita yahudi yang meninggal dan ditangisi keluarganya. Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda,

إِنَّهُمْ لَيَبْكُونَ عَلَيْهَا وَإِنَّهَا لَتُعَذَّبُ فِي قَبْرِهَا

Mereka menangisi wanita itu, sementara si wanita itu disiksa di kuburnya. (HR. Bukhari)

Tangisan seperti apakah yang menyebabkan mayit disiksa?

Ada hadis lain yang menggunakan lafadz berbeda,

Dari Mughirah bin Syu’bah ra, Rasulullah Muhammad SAW bersabda,

مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

Siapa yang diratapi maka dia disiksa karena ratapan yang ditujukan kepadanya. (HR. Bukhari & Muslim).

Kemudian, disebutkan dalam hadis Ibnu Umar

Bahwa Rasulullah Muhammad SAW dan beberapa sahabatnya pernah menjenguk Sa’d bin Ubadah yang ketika itu sedang dirundung kesedihan seluruh keluarganya. Melihat suasana sedih, Nabi Muhammad SAW bertanya, “Apa dia sudah meninggal?”

’Belum, ya Rasulullah.’ jawab keluarganya.

Kemudian Nabi Muhammad SAW menangis. Para sahabatpun ikut menangis. Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda,

أَلاَ تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ العَيْنِ، وَلاَ بِحُزْنِ القَلْبِ، وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا – وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ – أَوْ يَرْحَمُ، وَإِنَّ المَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

Tidakkah kalian mendengar, bahwa Allah tidak menyiksa disebabkan tetesan air mata atau kesedihan hati. Namun Allah menyiksa atau merahmati disebabkan ini, – beliau berisyarat ke lisannya -. Sesungguhnya mayit disiksa disebabkan tangisan keluarganya kepadanya. (HR. Bukhari & Muslim).

Dari dua hadis di atas, kita bisa memahami bahwa tangisan yang menyebabkan mayit disiksa adalah tangisan ratapan, yaitu tangisan sebagai ungkapan tidak terima atas taqdir dan keputusan Allah. Bukan tangisan karena kesedihan semata. Karena menahan tangisan kesedihan itu di luar kemampuan manusia. Bahkan sampai Rasulullah Muhammad SAW pun, beliau tidak bisa menahan bentuk tangisan itu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *