Apa itu “Rumahku Surgaku”?

RUMAHKU SURGAKU

SOLUSI KEBUTUHAN RUMAH RAKYAT DAN PERJUANGAN MEMBANGUN UMAT

Sejahterakan Bangsa Tanpa Riba

Oleh Deri Suandi, MSc

PENDAHULUAN

Selama ini kita mengenal adanya program  rumah bersubsidi bagi masyarakat yang berpengasilan rendah (MBR), yang sedianya adalah fasilitas dukungan pemerintah kepada rakyat untuk dapat memiliki rumah sendiri sebagai tempat tinggal dan sarana investasi keluarga. Program yang menyediakansubsidi untuk meringankan beban bunga Kredit Pembelian Rumah (KPR). Yang diharapkan dapat meringankan cicilan kredit tersebut bagi masyarakat, terutama bagi yang berpenghasilan rendah. Dimana program ini menunjuk Bank sebagai mitra penyaluran Subsidi dan pengembang sebagai mitra penyedia perumahannya.

Program ini semestinya adalah bagian dari wujud pelaksanaan amanah Undang-Undang,dan bagian dari tugas serta kewajiban Pemerintah untuk mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat. Dimulai dari membuka dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memiliki rumah sendiri yang sehat, dan layak huni. Yang dengan bergeraknya program ini pula diharapkan mendorong pertumbuhansector-sektor ekonomi lain yang terkait.

Sejak digulirkan dan dicanangkan program ini mengalami banyak perubahan pola dan konsep. yang bertujuan untuk  semakin memudahkan masyarakat menikmati fasilitas subsidi ini. Tercatat sudah beberapa pola kebijakan yang diterapkan, dimulai dari 38 tahun lalu tepatnya pada tanggal 10 Desember 1976 dimana KPR ini pertama kali bergulir dan hingga sekarang diperingati sebagai hari KPR nasional. Diawal dikenal dengan nama KPR RS (Rumah Sederhana) dan KPR RSS (Rumah Sangat Sederhana), kebijakan bunga menurun (KPR Bersubsidi), pola Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), dan terakhir adalah skema subsidi KPR terbatas. Digulirkan tahun ketahun dengan mengusung tagline fenomenal, bombastis..  “1 JUTA RUMAH UNTUK RAKYAT”.

Dan hal ini juga ditunjang oleh muculnya ribuan pengusaha property baik itu developer, kontraktor, supliyer dan juga agent-agent property yang turut berperan dalam mencapai target program. Asosiasi-asosiasi pengusaha property terus menggiatkan anggotanya untuk membangun rumah-rumah rakyat,  dan pelaku industry terus bekerja menyediakan kebutuhan pelengkap rumah-rumah tersebut.

Masyarakat pun berbondong-bondong mengajukan diri untuk mendapatkan fasilitas ini. Sebuah kesempatan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya, peningkatan status social dan memiliki asset sebagai benteng ekonomi rumah tangga. Dan sebagai satu-satunya dukungan dari pemerintah bagi masyarakat, program ini benar-benar menjadi tumpuan rakyat. Satu-satunya cara bagi masyarakat untuk mewujudkan mimpi punya rumah sendiri. Harapan-harapan hidup bahagia, istri-istri yang ceria dan anak-anak yang sehat dan cerdas yang tumbuh dalam lingkungan yang sehat.

BERHASILKAH PROGRAM 1 JUTA RUMAH UNTUK RAKYAT ?

Maraknya pertumbuhan property terutama pada sector rumah-rumah murah ini dapat kita simpulkan bahwa begitu bersemangatnya masyarakat untuk dapat menikmati fasilitas Subsidi pemerintah ini. Pameran pameran property skala nasional pun digelar disetiap tahun, belum lagi semaraknya iklan-iklan dan promosi dari setiap Pengembang yang menawarkan perumahannya bagi masyarakat.

Kita disuguhkan angka-angka pertumbuhan pembangunan, pertumbuhan industry-industri terkait yang terus berkembang dan semakin ramai oleh persaingan setiap produk. Lalu laporan-laporan dan berita-berita di media masa tentang ribuan masyarakat yang sudah menikmati fasilitas subsidi ini dibeberapa wilayah Indonesia.

Namun dibalik semua euphoria “orang-orang” property tersebut, dibalik semaraknya penampilan para pengusaha Property dan orang-orang perbankan, hingga detik ini tercatat ada 13.5 JUTA rakyat Indonesia yang belum memiliki rumah sendiri. Belum memiliki hunian sehat bagi keluarganya. Yang masih bermimpi untuk bisa punya rumah, menikmati fasilitas SUBSIDI dari pemerintah.

sumber http://www.perumnas.co.id/pemerintah-pangkas-backlog-perumahan/

Dan angka 13.5 juta KK yang tidak terbantu untuk punya rumah ini ternyata terus bertambah sebesar 800 – 900 ribu KK pertahun!, jumlah yang tidak main-main. Angka yang fantastis untuk sebuah bangsa yang memiliki luas wilayah 5.193.250 km² yang mencakup daratan dan lautan. Sebuah bangsa besar dengan asset lahan terluas no 7 dunia. Negeri yang dikenal sebagai zamrud khatulistiwa, gemah ripah loh jinawi, memiliki kekayaan alam, udara, tanah, dan hasil laut terbaik dunia. Namun ternyata tidak mampu menyediakan kebutuhan pokok dan vital bagi rakyatnya.

Angka-angka yang disajikan lebih berpihak dan menyorot kepada pertumbuhan penjualan dana kreditnya, pertumbuhan industry property lebih diwakili pada pertumbuhan pengusahanya atau lebih tepatnya disebut pertumbuhan kekayaan “orang-orang property”. Tidak nyaman terdengar namun inilah yang terjadi.

Kita tidak mendengar bagaimana pihak-pihak tersebut berusaha sekuat tenaga untuk benar-benar “merumahkan” rakyat. Semua bentuk program perumahan rakyat  (stimulus) dan mestinya dukungan bagi masyarakat diukur dari kacamata lembaga leasing (perbankan) ini dan kemudahan-kemudahan program lebih memihak pada kemudahan dan dukungan bagi pengusahanya. Amanah bagi pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya dibatasi oleh standart konsep bisnis leasingnya, dan kita harus menerima ini sebagai sebuah kenyataan yang akhirnya dianggap kebenaran.

14 juta KK yang tidak terumahkan ini bukanlah orang asing, mereka adalah putra putri negeri ini, Penduduk sah bangsa ini. Rakyat Indonesia yang sama, yang juga punya harapan dan mimpi indah untuk kesejahteraan keluarganya. Banyak dari mereka yang sanggup bayar UANG MUKA, dan mereka pun sanggup dan siap berusaha membayar cicilan dengan lancar dan amanah

Namun yang mereka tidak punya adalah data administrasi, mereka tidak punya slip gaji. Mereka yang bekerja disektor non formal, mereka yang dikatagorikan sebagai non fix income yeng sehari-harinya sebagai pedagang, supir, pelaku usaha kecil menengah, buruh, petani, nelayan, dan lain – lainnya. Dan jumlah rakyat pada bidang ini lebih dari 60% dari popolasi total penduduk Indonesia. Bahkan dari sector yang diangap fix income pun teryata juga terkondisikan menjadi tidak layak menerima fasilitas subsidi, karena statusnya outsourching (pekerja kontrak), atau sudah terlanjur memiliki kredit lain. Bahkan untuk kategori PNS pun hampir semua SK nya sudah terlanjur ‘sekolah”. Dan mereka hak mereka untuk menerima fasilitas negara berupa subsidi untuk bisa memiliki rumah sendiri pupus sudah.

Kondisi inilah yang terus berulang tahun demi tahun, target 1 JUTA RUMAH untuk rakyat tidak pernah tercapai bahkan tidak akan mungkin dicapai jika sudut pandang kita adalah standart dari leasingnya. Kebutuhan rumah rakyat Indonesia hanya dianggap komoditi bisnis bukan ujud perjuangan untuk bangsa.  Belum lagi proses pengajuan fasilitas subsidi ini hanya bisa dilakukan melalui para pengembang, dan semua prosedure pengajuan menjadi urusan mutlak para staff pengembang dan pihak Perbankan. Jangankan untuk bisa memperjuangkan hak mereka, untuk mengetahui alasan ditolak pun masyarakat seringkali di larang. Cukup terima apapun hasil “rakom” Lembaga leasing ini.

LATAR BELAKANG MASALAH

Dan dari paparan diatas yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa apapun alasannya ternyata program Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) ini baik yang Subsidi maupun non subsidi ternyata termasuk dalam katagori kredit RIBAWI. Sebuah ujud dari system bisnis yang menjadikan hutang piutang sebagai komoditi. Menjadikan kebutuhan rumah rakyat sebagai ajang penyebaran kredit-kredit riba. Yang menjebak masyarakat yang berharap membangun kehidupan mandiri, mapan, sejahtera dengan memiliki rumah sendiri menjadi penghasil-penghasil bunga, pemikul-pemikul riba. Hidup dalam keadaan tersiksa dan terhina dalam pandanganNya.

Jelas dan lugas dalam firmanNya Allah SWT sudah memberikan peringatan bagi umat manusia, betapa bahayanya riba dalam kehidupan manusia dan bagaimana ancaman Allah SWT bagi pelaku-pelaku Riba.

Bismillahirrahmanirrahiim

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  : البقرة:٢٧٥

  1. Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila.(105) Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Rabbnya lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperoleh dahulu menjadi miliknya(106) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ  : البقرة:٢٧٦

  1. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.(107) Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.(108)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  : البقرة:٢٧٧

  1. Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada rasa sedih pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ     : البقرة:٢٧٨

  1. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ   : البقرة:٢٧٩

  1. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka berhak atas pokok hartamu. Kamu kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ   : البقرة:٢٨۰

  1. Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkannya, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ  : البقرة:٢٨١

  1. Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka tidak dizalimi (dirugikan).

Dan hari ini bangsa besar yang memiliki 260 juta jiwa, pemilik negeri subur makmur dengan kekayaan alam berlimpah ini hidup dalam belenggu hutang. Hidup tertekan seperti orang gila dan dikondisikan menjadi bangsa pekerja, pembeli dan kumpulan para penghutang, penghasil bunga dan pemikul riba. Melalui Ayat Al-Baqoroh 275-281 Allah dengan tegas memberi kitaperingatan bagaimana riba  menciptakan praktek kedzaliman secara ekonomi dan social. Menciptakan kondisi masyarakat penuh penyakit jiwa, cinta dunia, kikir kejam, rakus, pelit, sombong, dan matrialisme.

Dan ternyata program Kredit Pembelian Rumah (KPR) baik Subsidi maupun Non Subsidi pemberi suplay keuntungan RIBA terbesar bagi kapitalis-kapitalis Ribawi ini. Menjadi lokomotiv percepatan penguasaan mereka pada umat dan ekonomi. Secara massive mereka menjebak dan menggiring bangsa ini pada sebuah karakter kehidupan sebagaimana yang mereka inginkan. Karena terbukti, jika rumahnya diperoleh dengan cara riba maka hampir seluruh isi rumah dan pemenuhan kebutuhan lainnya akan diraih dengan cara-cara riba. Kredit-kredit alat rumah tangga, elektronik, furniture, bahkan untuk kehidupan sehari-hari.

Dengan KPR Riba ini para Kapitalis tersebut mengukuhkan kuasanya pada semua asset negeri, merebut semua sumber dayanya dan mengambil alih semua penyediaan kebutuhannya. Lengkap sudah cita-cita mereka untuk kembali menguasai bumi Indonesia.

Lalu.. bagaimana kita harus bangkit dan melawan?

PROGRAM RUMAHKU SURGAKU

GAMBARAN UMUM

Beranjak dari kondisi seperti yang dipaparkan diatas, dapat dilihat kondisi riil yang terjadi. Masalah demi masalah muncul dilengkapi dengan banyaknya musibah yang melanda negeri ini, masyarakat yang kehilangan norma dan jati diri, krisis ekonomi yang semakin menjadi-jadi. Hilangnya kedaulatan bangsa, semua kebutuhan masyarakat dikuasai dan diatur dengan cara kapitalis. Dan semua itu belum seberapa dibanding kerusakan mental, moral, dan rapuhnya sendi-sendi TAUHID bagi umat Islam diIndonesia. Dan semua ini karena RIBA yang merajalela, diberi ruang dan dilegalkan yang menyerbu semua lapisan masyarakat.

Penjajahan ekonomi yang dianggap sah dan legal, menjadikan setiap keluarga-keluarga Indonesia sebagai sumber-sumber penghasil bunga Riba. Dirusak ekonominya dan dirusak syahadatnya. Dan semua ini terjadi saat ini, sedang berlangsung dan didepan mata.

Oleh karenanya perlu dilakukan sebuah upaya perlawanan, sebuah upaya terobosan untuk mengembalikan situasi. Sebuah program kerja bersama seluruh elemen negeri. Bangun kesadaran umat dan bangun kekuatan. Karena upaya ini tidak akan mudah, tidak akan sebentar dan tidak akan didiamkan oleh “kekuatan” yang berkuasa saat ini.

Dan pada jaman dimana akan sulit sekali merubah paradigma dalam masyarakat tentang bahaya Riba dan bagaimana bisa hidup  tanpa riba. Mampu memenuhi semua kebutuhan hidup dengan cara yang halal dan thayyibah. bisa tetap suskes dan hebat tanpa Riba, tetap bisa punya kendaraan, modal, dan lainnya tanpa keterlibatan Lembaga-lembaga riba. Jaman dimana karakter dan pemahaman 1 bangsa berhasil dirubah dan disetting sesuai kehendak kapitalis-kapitalis riba. Penyakit dan sudah masuk jauh kedalam sendi-sendi ekonomi serta pola pikirnya. Bahkan para pelaku riba ini menolak jika disebut “korban”, mereka merasa dibantu, menganggap Lembaga-lembaga Riba ini sebagai pahlawan (dewa) yang menolong. Dan sikap skeptis ini sudah masuk level akut.

Dari mana kita bisa mulai? Apa bentuk upaya yang bisa kita lakukan? Mampukah kita mengimbangi kekuatan asing dan aseng tersebut? Dari pertanyaan-pertanyaan inilah akhirnya kami menyusun sebuah konsep kerja dan perjuangan. Mencoba bergerak dalam kondisi yang ada, dengan sisa kekuatan yang ada dan mengajak semua pihak yang sadar dan siap berjuang bersama-sama.

Perjuangan melawan dominasi kapitalis Riba ini membutuhkan 4 (empat) aspek sekaligus syarat :

  1. Adanya umat yang akan disadarkan dan dibangunkan kekuatannya.
  2. Adanya hak control, komando, dan proteksi atas mereka.
  3. Adanya ketersediaan waktu dan infrastruktur untuk menyelenggarakan dakwah dan pembinaan
  4. Adanya dana dan sumber daya yang cukup selama masa proses tersebut.

Lalu dalam situasi dan kondisi apa semua aspek tersebut bisa dimunculkan dalam satu waktu? Dalam 1 paket dan beriringan saling menguatkan?

Maka konsep perumahan Syariah “Program Rumahku Surgaku” yang kami angkat dan usunguntuk mampu mewujudkannya. Sebuah program dakwah pembinaan umat berbasis kebutuhan pokok masyarakat pada rumah, tempat tinggal sekaligus sarana kehidupannya. Karenanya karakter dan pola operasional perumahan Syariah Rumahku Surgaku dirancang dan disusun menjadi benteng sekaligus kesempatan membangun kekuatan dan stabilitas ekonomi dan iman Tauhid masyarakat.

Dan peluang ini didapat beranjak dari fakta bahwa saat ini ada 14 juta KK penduduk Indonesia yang belum memiliki rumah sendiri, dan akan bertambah menjadi 30 juta ditahun 2030. Masyarakat Indonesia yang tidak bisa menikmati fasilitas KPR Subsidi karena bekerja pada sector non formal, dianggap Non Fix Income. Ditambah dari jumlah masyarakat yang awalnya dianggap “Bankable” akhirnya harus gagal mengajukan KPR karena BI Checking disebabkan hutang-hutang selain KPR. Serta gelombang kesadaran akan bahaya riba membuat munculnya segmentasi masyarakat yang secara pasti menolak semua bentuk riba.

Dan kebutuhan rumah masyarakat ini hanya bisa dipenuhi dengan skema perumahan Syariah. Kesempatan memiliki rumah sebagai kebutuhan pokok tanpa terjebak persyaratan yang sulit dan pembiayaan ribawi. Program yang bisa dinikmati oleh semua golongan, semua bidang pekerjaan dan usaha. Dan  dalam program memenuhi kebutuhan rumah inilah yang dapat dijadikan kesempatan membangun kantong-kantong masyarakat hidup sesuai Syariah, merebut share market ribawi, mengumpulkan keluarga-keluarga yang ingin kembali menjadi hamba-hambayang taat pada Allah, menciptakan lingkungan kehidupan sesuai syariat, lingkungan bernuansa pendidikan bagi keluarga. Dengan menyediakan perumahan perumahan-perumahan berskema Syariah ini upaya memenuhi kebutuhan rumah rakyat akan semakin terbuka, kesadaran bahaya riba akan membuat kebangkitan kesadaran masyarakat untuk mengenal tuntunan agama dan bertauhid pada Allah rabbul jalal, yang pada akhirnya menimbulkan kepedulian pada halal haram dalam hidupnya, dan akan mencari rezeki dengan cara-cara yang halal, pekerjaan-pekerjaan yang halal, memenuhi kebutuhan dengan barang-barang dan cara-cara yang halal.

MENGAPA PORPERTY DAN MENGAPA HARUS SYARIAH?

Ada banyak pilihan cara dalam menggerakkan dakwah anti riba dan membangun ekonomi umat, namun kitapun harus sadar akan keterbatasan dan kondisi riil saat ini. Oleh karenanya kami memilih program property Syariah sebagai pilihan jalan perjuangan, karena :

  1. Dari 260 juta jiwa penduduk Indonesia, 88 % nya adalah muslim dan sudah seharusnya pemenuhan kebutuhan pokok berupa perumahan pun dengan cara-cara sesua tuntunan syariat Islam.
  2. Property adalah lokomotiv ekonomi, yang mampu menggerakkan ratusan usaha-usaha sekaligus dalam satu moment.
  3. Dibutuhkan sebuah power position, komando, sekaligus proteksi atas umat untuk mampu menyelenggarakan dakwah dan Pendidikan lanjutan dalam perumahan.
  4. Dibutuhkan sebuah kondisi yang tenang dan stabil untuk menjadi wadah proses taubat riba bagi masyarakat, serta adanya dukungan lingkungan.
  5. Adanya potensi-potensi ekonomi dalam setiap perumahan yang dapat dijadikan sebagai sarana dan solusi membangun ulang ekonomi keluarga.
  6. Dengan bernaung dalam konsep Syariah maka menjadi kesempatan untuk memberikan wawasan tentang tuntunan Syariah dalam kehidupan sehari-hari.

Maka property Syariah “Rumahku Surgaku” ini akan menjadi sebuah programpenyediaan kebutuhan rumah yang sehat dan layak bagi masyarakat Indonesia. Program yang bisa diikuti dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, dengan latar belakang pekerjaan apa saja, dan tidak menjebak masyarakat menjadi pemikul RIBA. Pembelian rumah dengan skema cicilan yang ringan, persyaratan yang mudah, dan proses yang simple dan transparan tanpa melibatkan pihak pembiayaan (leasing). Dan diselenggarakan sesuai dengan kaidah muammalah:

PROGRAM PERUMAHAN SYARIAH :

Dalam penyelenggaraannya program RumahkuSurgaku ini akan hadir ditengah masyarakat dengan bentuk :

  1. Menyediakanperumahan murah namun berkualitas bagi masyarakat, sesuai ketentuan perijinan dan perundang-undangan yang berlaku. Termasuk pada penentuan lokasi yang strategis dan relevan sesuai perkembangan setiap wilayah.
  2. Produk perumahan yang type dan spesifikasinya dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat serta mengacu pada ketersediaan lahan.
  3. Skema cicilan hingga 10 tahun TANPA BUNGA
  4. Tanpa pembiayan dari pihak ketiga (Bank, Leasing, dll)
  5. Tanpa ada ancaman DENDA, dan ancaman SITA
  6. Persyaratan dan proses mudah karena hanya hubungan jual beli 2 pihak

Program RumahkuSurgaku ini akan menjadi kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk memiliki rumah sendiri dengan cara-cara yang halal dan cara yang Allah ridhoi, penuh berkah dan maslahat. Membuka kesempatan bagi 13.5 juta kk yang salama ini gagal memiliki rumah karena ditolak Bank. Dan menjadikan kesempatan dalam hubungan dengan masyarakat tersebut sebagai basis dakwah dan pemberdayaan ekonomi berjamaah.